Pages

Pages - Menu

Pages - Menu

Rabu, 25 Maret 2015

Tips Presentasi yang Baik



MEMBUAT SLIDE PRESENTASI YANG BAIK DAN MENARIK

Berikut ini adalah beberapa tips untuk membuat slide yang baik dan menarik:
1.   Ganti Bullet Point Menjadi Gambar dan Kata Kunci
     Bullet Point dan teks yang panjang akan mebuat slide anda terkesan membosankan. Gantilah Bullet point menjadi gambar dan kata kunci. Gambar dan kata kunci akan membuat slide anda mudah diingat. selain itu, audiens juga dapat menciptakan asosiasi antara gambar yang anda gunakan dengan kata kunci yang mewakilinya.
2.   Ringkas dan Sederhanakan Teks dalam Slide Presentasi
     Teks yang panjang akan sulit untuk dibaca oleh audiens. Teks yang ringkas akan membuat pesan anda menjadi lebih jernih dan audiens tidak kesulitan untuk memahaminya. Dengan demikian, audiens bisa lebih fokus untuk memperhatikan anda sebagai presenter.
3.   Ubah Teks dengan  Gambar dan Angka
      Audiens akan sulit mengingat teks yang panjang. Slide dengan gambar dan angka akan membantu imajinasi auudiens anda.
4.   Ubah Cara Penyajian Menjadi Lebih Menarik

5.   Posisikan Gambar dengan Tepat
      Posisi gambar yang baik akan membuat slide anda jauh lebih kuat sekaligus efektif. gambar yang diletakkan di tengah-tengah slide menjadikannya lebih terlihat umum dan standar. Posisikanlah teks berhadapan langsung dengan gambar.


TERAMPIL BERBICARA DI DEPAN UMUM

1.      Gesture Tangan Ketika Presentasi
      Menggunakan gerakan tangan boleh saja saat presentasi asalkan tidak berulang-ulang dan dalam kecepatan yang wajar serta sesuai dengan topik yang dibicarakan. Berikut ini adalah 3 gerakan yang tidak boleh dilakukan saat presentasi:
  • Tangan di belakang (Too Formal), ketika anda berbicara dengan tangan di belakang audiens akan melihat anda seperti orang yang kaku
  • Tangan di dalam saku (Too Casual), ini akan menimbulkan persepsi bahwa seakan-akan anda merendahkan diri, tidak sopan, terlalu santai, dan terlalu menyepelekan.
  • Tangan di pinggang, audiens akan berpikir bahwa anda sedang marah atau anda adalah orang yang sombong

2.      Memelihara Kontak Mata Ketika Presentasi
      Salah satu tantangan terbesar saat melakukan presentasi adalah bagaimana audiens anda tetap memberikan perhatiak kepada anda. Bagaimana audiens tetap memperhatikan pembicaraan anda dengan menggunakan kontak mata yang benar? Berikut ini adalah tips-tipsnya:
  • Tersambung dengan audiens (Connected), hal pertama yang harus anda lakukan adalah memberikan kontak mata pada setiap individu yang hadir sambil tetap berbicara. Tetapi ini hanya bisa dilakukan dalam "small group presentation" atau tidak lebih dari 30 orang
  • Bila audiens lebih dari 30 orang maka yang harus anda lakukan adalah berbagi pandangan, melihat ke sisi kiri kemudian ke sisi kanan dan kembali ke tengah. Lakukan ini berulang-ulang hingga sisi belakang dan belakang kanan dan kembali ke tengah. Ketika anda antusias memperhatikan mereka, maka mereka antusias memperhatikan anda. Buatlah seisi ruangan merasa dirinya penting

3.      Mempersiapkan Presentasi yang Baik
  • Buatlah semenarik mungkin. Walaupun materi yang anda bawakan sangat membosankan,  tetapi anda harus membuat materi itu agar mudah dipahami dan menarik. Bila perlu berikan jeda untuk tertawa, misalnya dengan disisipi humor ringan
  • Ketahui audiens anda. Ketika presentasi jika anda berbicara dengan audiens yang lebih muda maka harus disesuaikan dengan suara dan pembicaraan sebagaimana yang diperlukan. Jika audiens lebih tua dan tegas, buatlah lebih praktis dan logis. Mengatahui audiens sangat penting, ini akan mempengaruhi anda kata apa yang akan digunakan, humor yang mana yang akan digunakan, bahkan berpakaian yang pas sesuai dengan audiens yang hadir
  • Jangan memberitahu orang bahwa anda gugup. Ini akan membuat audiens anda menjadi tidak memperhatikan
  • Rekam diri anda saat berlatih presentasi sebelum hari "H"
  • Bergeraklah di sekitar anda
  • Kurangi kecepatan. Berhenti selama beberapa detik setiap pembicaraan baru dan berikan jeda pada audiens untuk menanggapi. Mengurangi kecepatan cenderung membuat anda tidak tersandung dalam kata-kata yang salah atau salah berbicara
  • Bertanya tentang apa yang sudah anda lakukan kepada audiens. Mengetahui apa saja yang telah kamu lakukan dengan baik akan meningkatkan kepercayaan diri anda dapat memperbaikinya akan membantu anda untuk merasa lebih percaya diri untuk tetap berada di atas panggung pada waktu berikutnya.
  
4.       Menghilangkan Kebiasaan Mengucapkan Kata "Ehm, Ar, dan Erh"
      Saat berbicara di depan publik, secara tidak sadar kita menggunakan kata ehm, ar, erh, dan lain-lain. Hal itu dapat membuat kita terkesan pasif dan tidak yakin dengan apa yang kita sampaikan.  Berikut ini adalah tips menghilangkan kebiasaan mengucapkan kata ehm, ar, dan erh;
  • Rekam pembicaraan anda, misalkan pembicaraan anda dengan teman anda di telepon. Dengarkan hasil rekaman, hitung berapa kali anda mengucapkan kata ehm, ar, erh. Jika ternyata anda banyak mengucapkan kata tersebut maka salah satu cara yang dapat anda lakukan adalah ambil kertas kemudian tulis kata yang sering anda ucapkan misalnya ehm. Lingkari kata tersebut kemudian coret, sebagai tanda untuk mengingatkan bahwa ini adalah kata-kata yang harus anda hindari ketika berbicara. Kertas ini bisa ditempel di depan komputer, mobil, motor, buku, agenda, lemari, dan lain-lain
  • Buatlah gerakan ketika anda ingin mengucapkan kata ehm. Misalnya dengan memegang kuping atau menyatukan tangan anda setiap kali ingin mengucapkan kata ehm. Penggunaan gesture dapat menjadi alarm atau pengingat secara fisik




"Semoga Bermanfaat :)"

Laporan Praktikum Morfologi Tumbuhan 2



PRAKTIKUM II
Topik                   : Daun Majemuk dan Bagian-bagiannya
Tujuan                 : Mengenal macam-macam bentuk daun majemuk dan bagian-bagiannya.
Hari/Tanggal       : Sabtu/ 28 Februari 2015
Tempat                : Laboratorium Biologi PMIPA FKIP UNLAM Banjarmasin

Laporan Praktikum Zoologi Invertebrata 4



PRAKTIKUM IV

Topik               :  Annelida
Tujuan             :  Mengamati dan menyebutkan cirri-ciri morfologi dari cacing   
                           tanah dan lintah
Hari/tanggal    :  Kamis/ 12 Maret 2015
Tempat            :  Laboratorium Biologi PMIPA FKIP UNLAM Banjarmasin

Laporan Praktikum Zoologi Invertebrata 3



PRAKTIKUM III 
Topik               : Coelenterata
Tujuan             : 1. Mengenal anggota phylum Coelenterata.
                         2. Mengenal morfologi dan tanda-tanda karakteristik phylum Coelenterata.
Hari/Tanggal   : Kamis,  5 Maret 2015
Tempat            : Laboratorium Biologi PMIPA FKIP UNLAM Banjarmasin


Laporan Praktikum Zoologi Invertebrata 2





PRAKTIKUM II
Topik               : Porifera
Tujuan             : Mengenal morfologi dan tanda-tanda karakteristik anggota
   phylum Porifera.
Hari/Tanggal   : Kamis,  5 Maret 2015
Tempat            : Laboratorium Biologi PMIPA FKIP UNLAM Banjarmasin

Senin, 23 Maret 2015

Laporan Praktikum Zoologi Invertebrata 1






PRAKTIKUM I
Topik                   : Protozoa
Tujuan                 : Mengenal beberapa anggota phylum Protozoa yang hidup
                              bebas di air tawar.
Hari/Tanggal        : Kamis/ 19 Februari dan 26 Februari 2015
Tempat                : Laboratorium Biologi PMIPA FKIP UNLAM Banjarmasin

Minggu, 22 Maret 2015

Laporan Praktikum Morfologi Tumbuhan


                                                                       PRAKTIKUM 1
Topik               : Daun Tunggal dan Bagian-bagiannya
Tujuan             : Mengenal bagian-bagian daun dan ciri-ciri daun tunggal
Hari/tanggal    : Sabtu/ 21 Februari 2015
Tempat            : Laboraturium Biologi PMIPA FKIP UNLAM Banjarmasin
I.                   ALAT DAN BAHAN
A.    Alat-alat
1.      Baki/Nampan
2.      Alat tulis
B.     Bahan-bahan
1.      Daun Bambu (Bambusa sp)
2.      Daun Tebu (Saccharum officinarum I.)
3.      Daun Pisang (Musa paradisiaca L.)
4.      Daun Jarak (Ricinus communis L.)
5.      Daun Widelia (Widelia sp)
6.      Daun Keladi (Colocasia sp)
7.      Daun Mangga (Mangifera indica L.)

II.                CARA KERJA
1.     Mengamati bagian-bagian daun: tangkai (petiolus), pelepah (vagina), helaian (lamina), lidah-lidah (ligula).
2.    Mengamati bangun daun: lanset, bulat telur, bulat telur terbalik, perisai, garis, pita, dsb.
3.    Mengamati ujung daun: runcing, meruncing, bulat, tumpul, membulat, rompang/rata, berbelah, berduri.
4.  Mengamati pangkal daun: runcing, meruncing, tumpul, membulat, rompang/rata, berlekuk.
5.   Mengamati tepi daun: rata, bergigi, bergerigi, bergerigi ganda, beringgit, berombak, berlekuk, bercangap, berbagi.
6.  Mengamati daging daun: tipis seperti selaput, tipis lunak seperti kertas, seperti perkamen, seperti kulit, berdaging.
7.      Mengamati pertulangan daun: menyirip, menjari, melengkung, sejajar.
8.  Mengamati permukaan atas dan bawah daun: gundul, licin ( mengkilat, suram, berselaput lilin ), kasap, berkerut, berbingkul-bingkul, berbulu (jarang, halus dan rapat kasar).
9.      Mengamati warna daun pada permukaan atas dan bawah.
10.  Menggambar hasil pengamatan.

III.             DASAR TEORI
Daun merupakan bagian tumbuhan yang penting dan umumnya tiap tumbuhan mempunyai sejumlah besar daun. Alat ini hanya terdapat pada batang, bagian batang tempat duduknya atau melekatnya daun dinamakan buku-buku (nodus) batang dan tempat di atas daun yang merupakan sudut antara batang dan daun dinamakan ketiak daun (axilla). Daun biasanya tipis melebar. Kaya akan suatu zat warna hijau daun yang dinamakan klorofil. Daun berfungsi sebagai alat untuk :
1.    Pengambilan zat-zat makanan (reabsorbsi)
2.    Pengolahan zat-zat makanan (asimilasi)
3.    Penguapan air (transpirasi)
4.    Pernapasan (respirasi)
A.  Bagian-bagian daun
Daun lengkap terdiri dari tiga bagian yaitu:
1.    Upih daun atau pelepah daun (vagina)
2.    Tangkai daun (petiolus)
3.    Helaian daun (lamina)
Ada beberapa macam contoh tumbuhan yang mempunyai daun lengkap misalnya : pohon pisang (Musa paradisiaca L.), pohon pinang (Areca catechu L.), bambu (Bambusa sp), dan lain-lain.
B.   Bangun/bentuk daun  (Circumcriptio) 
Berdasarkan letak bagian daun terlebar itu dapat dibedakan empat golongan daun, yaitu daun dengan :
1.      Bagian yang terlebar terdapat kira-kira di tengah-tengah helaian daun.
Tumbuhan yang memiliki daun yang bagian terlebarnya terletak di tengah-tengah helaian daun kemungkinan bangun daunnya adalah seperti berikut :
a.      Bulat atau bundar (orbicularis)
Jika panjang : lebar = 1 : 1. Contoh bangun daun yang seperti itu ialah pada Victoria regia, Nelumbium nelumbo Druce (teratai besar), dan lain-lain.
b.      Perisai (peltatus)
Daun yang biasanya bangun bulat tetapi mempunyai tangkai daun yang tidak tertanam pada pangkal daun. Melainkan pada bagian tengah helaian daun, misalnya pada daun jarak (Ricinus communis L)
c.       Jorong (ovalis atau ellipticus)
Jika perbandingan panjang : lebar = 1,5-2 : 1. Seperti pada daun  nangka (Artocarpus integra Merr.) dan nyamplung (Calophyllum inophyllum L).
d.      Memanjang (oblongus)
Jika panjang : lebar = 2,5-3 : 1. Misalnya daun srikaya (Annona squamosa L ).
e.       Lanset ( lanceolatus )
Jika panjang : lebar = 3-5 : 1. Misalnya daun kamboja (Plumiera acuminata).
Jika misalnya bangun daun diantara jorong bulat memanjang, maka daun dapat dikatakan bangun jorong-memanjang (elliptico-oblongus). Jika di antara memanjang dan bangun lanset disebut memanjang-bangun lanset (oblongo-lanceolatus).
2.      Bagian yang terlebar terdapat di bawah tengah-tengah helaian daun
Daun-daun yang mempunyai bagian terlebar di bawah tengah-tengah helaian daunnya dibedakan dalam dua golongan, yaitu :
A.    Pangkal daunnya tidak bertoreh
a.       Bangun bulat telur (ovatus)
Misalnya daun kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis L.) dan daun lombok rawit (Capsicum frutescens L.).
b.      Bangun segitiga (triangularis)
Bangun daun seperti segitiga sama kaki. Misalnya daun  bunga pukul empat (Mirabilis jalapa L.).
c.       Bangun delta (deltoideus)
Bangun daun seperti segitiga sama sisi. Misalnya daun air mata pengantin (Antigonon leptopus Hook. Et Arn.)
d.      Bangun belah ketupat (rhomboideus)
Bangun daun seperti segi empat yang sisinya tidak sama panjang. Misalnya anak daun yang di ujung daun bangkuwang (Pachyrrizus erosus Urb.)
B.     Pangkal daun bertoreh atau berlekuk
a.       Bangun jantung (cordatus)
Yaitu bangun seperti bulat telur tetapi pangkal daun memperlihatkan suatu lekukan. Misalnya daun waru (Hibiscus tiliaceus L.)
b.      Bangun ginjal (reniformis)
Yaitu daun yang pendek lebar dengan ujung yang tumpul atau membulat dan pangkal yang berlekuk dangkal. Misalnya daun pagagan atau daun kaki kuda (Centella asiatica Urb.)
c.       Bangun anak panah (sagittatus)
Daun yang tak seberapa lebar, ujung tajam dan pangkal dengan lekukan lancip pula. Demikian juga bagian pangkal daun dikanan kiri lekukannya seperti pada daun eceng gondok (Sagittaria sagittifolia L.)
d.      Bangun tombak (hastatus)
Seperti bangun anak panah, tetapi bagian pangkal daun di kanan kiri tangkai mendatar. Misalnya daun wewehan (Monochoria hastata Solms)
e.       Bertelinga (auriculatus)
Seperti bangun tombak, tetapi pangkal daun di kanan kiri tangkai membulat. Misalnya daun tempuyung (Sonchus asper  Vill.).
3.      Bagian yang terlebar terdapat di atas tengah-tengah helaian daun
a.      Bulat telur sungsang (obovatus)
Yaitu seperti bulat telur tetapi bagian yang lebar terdapat dekat ujung daun. Misalnya daun sawo kecik (Manilkara kauki Dub.)
b.      Jantung sungsang (obcordatus)
Misalnya daun sidaguri (Sida retusa L.), daun calincing atau semanggi gunung (Oxalis corniculata L.)
c.       Segitiga terbalik/pasak ( cuneatus )
Misalnya anak daun semanggi (Marsilea crenata Presl. )
d.      Sudip atau spatel (spathulatus)
Seperti bangun bulat terbalik, tetapi bagian bawahnya memanjang. Misalnya daun tapak liman (Elephantopus scaber L.)
4.      Tidak ada bagian yang terlebar atau dari pangkal ke ujung dapat dikatakan sama lebarnya
Dalam golongan ini yermasuk daun-daun tumbuhan yang biasanya sempit atau lebarnya jauh berbeda jika dibandingkan dengan panjangnya daun.
a.      Garis (linearis)
Pada penampang melintangnya pipih dan daun amat panjang. Misalnya daun bermacam-macam rumput (Gramineae)
b.      Pita (ligulatus)
Serupa daun bangun garis, tetapi lebih panjang lagi. Misalnya daun jagung (Zea mays L.)
c.       Pedang (ensiformis)
Seperti bangun garis, tetapi daun tebal dibagian tengah dan tipis kedua tepinya. Misalnya daun nenas sebrang (Agave sisalana Perr., Agave cantala Roxb.)
d.      Paku atau dabus (subulatus)
Bentuk daun hampir seperti silinder, ujung runcing dan seluruh bagiannya kaku. Misalnya (Araucariacunninghamii Ait.)
e.       Jarum (acerosus)
Serupa bangun, lebih kecil dan meruncing panjang. Misalnya daun Pinus merkusii Jungh & De Vr
C.    Ujung daun (Apex felli) dan pangkal daun  (Basis folli)
a.      Ujung daun (Apex felli)
Ada tujuh bentuk ujung daun yang sering kita jumpai, yaitu :
1.      Runcing (acutus)
Jika kedua tepi daun dikanan kiri ibu tulang sedikit demi sedikit menuju ke atas dan pertemannya pada puncak daun dan membentuk suatu sudut lancip. Contoh : ujung daun oleander (Nerium oleander L.)
2.      Meruncing (acuminatus)
Seperti pada ujung yang runcing tetapi titik pertemuan kedua tepi daunnya jauh lebih tinggi dari dugaan, hingga ujung daun nampak sempit panjang dan runcing. Misalnya ujung daun sirsak (Annona muricata L.)
3.      Tumpul (obtusus)
Tepi daun yang semula masih agak jauh dari ibu tulang cepat menuju kesuatu titik pertemuan, hingga terbentuk sudut yang tumpul. Misalnya ujung daun sawo kecik (Manilkara kauki Dub.)
4.      Membulat (rotundatus)
Seperti pada ujung daun yang tumpul, tetapi tidak terbentuk sudut sama sekali, hingga ujung daun yang merupakan semacam suatu busur. Terdapat dapat pada daun yang bulat atau jorong. Misalnya ujung daun kaki kuda (Centella asiatica Urb.)
5.      Rompang (truncatus)
Ujung daun tampak sebagai garis yang rata. Misalnya ujung anak daun semanggi (Marsilea crenata Presl.) atau daun jambu monyet (Anacardium occidentale L.)
6.      Terbelah (retusus)
Ujung daun justru memperlihatkan suatu lekukan, kadang-kadang amat jelas. Misalnya ujung daun sidaguri (Sida retusa L.)
7.      Berduri (mucronatus)
Yaitu jika ujung daun  ditutup dengan suatu bagian yang runcing keras. Misalnya ujung daun nanas sebrang (Agave sp)
b.      Pangkal daun (Basis folli)
Pangkal daun dibedakan menjadi dua, yaitu :
1.      Yang tepi daunnya dibagian itu tidak pernah bertemu, tetapi terpisah oleh pangkal ibu tulang/ujung tangkai daun. Dalam keadaan demikian pangkal daun dapat runcing (acutus), meruncing (acuminatus), tumpul (obtusus), membulat (rotundatus), rompang (truncatus) dan berlekuk (emarginatus).
2.      Yang tepi daunnya dapat bertemu dan berlekatan satu sama lain :
a.       Pertemuan tepi daun pada pangkal terjadi pada sisi yang sama terhadap batang sesuai dengan letak daun pada batang tadi, seperti pada daun-daun bangun perisai.
b.      Pertemuan tepi daun terjadi pada sisi seberang batang yang berlawanan atau berhadapan dengan letak daunnya. Dalam hal ini tampaknya seperti pangkal daun tertembus oleh batangnya (perfoliatus)
D.    Susunan tulang daun (nervatio atau venation)
Tulang-tulang daun adalah bagian daun yang berfungsi untuk memberi kekuatan pada daun atau sebagai penguat dan jalan untuk pengangkutan zat-zat. Menurut besar kecilnya tulang daun dibedakan dalam tiga macam, yaitu : ibu tulang daun (costa), tulang-tulang cabang (nervus lateralis) dan urat-urat daun (vena). Berdasarkan arah tulang-tulang cabang yang besar pada helaian daun, dapat dibedakan beberapa macam susunan tulang daun dan berdasarkan susunan tulangnya dapat dibedakan menjadi empat golongan , yaitu daun-daun yang bertulang menyirip (pennanervis), daun-daun yang bertulang menjari (palminervis), daun-daun yang bertulang melengkung (cervinervis) dan daun-daun yang bertulang sejajar atau bertulang lurus (rectinervis).
E.     Tepi daun (margo folli)
Secara garis besar tepi daun dapat dibedakan dalam dua macam, yaitu : rata (integer) dan bertoreh (divisus). Toreh-toreh pada tepi daun sangat beraneka ragam sifatnya. Biasanya toreh-toreh pada tepi daun dibedakan dalam tiga golongan, yaitu :
1.      Tepi daun yang bertoreh merdeka
Tepi daun dengan toreh yang merdeka banyak pula ragamnya, namun yang sering kita jumpai adalah tepi daun yang dinamakan bergerigi (serratus), bergerigi ganda (bisseratus), bergigi (dentatus), beringgit (crenatus) dan berombak ( repandus)
2.      Tepi daun dengan toreh-toreh yang mempengaruhi bentuk
Berdasarkan dalamnya toreh-toreh pada tepi daun dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu : berlekuk (lobatus), bercangap (fissus) dan berbagi (pertitus).
F.     Daging daun (intervenium)
 Daging daun (intervenium) adalah bagian daun yang terdapat diantara tulang-tulang daun dan urat-urat daun. Di bagian ini zat-zat yang diambil dari luar tubuh di ubah menjadi zat-zat yang sesuai dengan keperluan kehidupan tumbuhan. Tebal tipisnya helaian daun tergantung dari tebal tipisnya daging daunnya. Oleh karena itu, daging daun dapat bersifat seperti selaput (membranceus). Seperti kertas (papyraceus) atau (chartaceus), tipis lunak (herbaccus), seperti perkamen (perkamenteus), seperti kulit belulang (cortacius) dan cerdaging (carnosus).
G.    Warna daun
Secara umum kita ketahui bahwa daun berwarna hijau, namun  tidak jarang kita jumpai daun yang berwarna tidak hijau. Selain itu, warna hijau pada daun dapat memperlihatkan banyak variasi atau nuansa. Misalnya merah, hijau bercampur atau tertutup warna merah atau hijau kekuningan.
H.    Permukaan daun
Pada umumnya warna daun pada sisi atas dan bawah jelas berbeda. Biasanya sisi atas tampak lebih hijau, licin atau mengkilat jika dibandingkan dengan sisi bawahnya. Kadang-kadang pada permukaan daun terdapat alat-alat tambahan yang berupa sisik-sisik, rambut-rambut, duri, dan lain-lain Oleh karena itu orang membedakan permukaan daun ada yang licin (laevis), gundul (glaber), kasap (scaber), berkerut (rugosus), berbinggul-binggul (bullatus), berbulu (pilotus), berbulu halus atau rapat (villosus), berbulu kasar (hispidus) dan bersisik (lepidus).


B.  GAMBAR HASIL PENGAMATAN
1.      Daun bambu (Bambusa sp)
 


2.      Daun tebu (Saccharum officinarum L.)
 
 

3.      Daun pisang (Musa paradisiaca L.)


4.                   Daun jarak (Ricinus communis L.)

























5.              Daun widelia (Widelia sp.)
Keterangan:
1.      Ujung daun
2.      Pangkal daun
3.      Tepi daun
4.      Helaian daun
5.      Tangkai daun
6.      Pertulangan daun










Foto pengamatan
Keterangan:
1.      Ujung daun
2.      Pangkal daun
3.      Tepi daun
4.      Helaian daun
5.      Tangkai daun
6.      Pertulangan daun
 
Keterangan:
1.      Ujung daun
2.      Tepi daun
3.      Pangkal daun
4.      Helaian daun
5.      Pertulangan daun
Menurut literatur
 






















6.    Daun keladi (Colocasia sp.)
Keterangan:
1.      Ujung daun
2.      Pangkal daun
3.      Tepi daun
4.      Helaian daun
5.      Tangkai daun
6.      Ibu tulang daun
7.      Pelepah daun














Foto pengamatan
Keterangan:
1.      Ujung daun
2.      Helaian daun
3.      Tepi daun
4.      Pertulangan daun
5.      Tangkai daun

Keterangan:
1.       Ujung Daun
2.       Pangkal daun
3.       Tepi daun
4.       Helaian daun
5.       Ibu tulang daun
6.       Pertulangan daun
7.       Tangkai daun
8.       Pelepah daun
Menurut literatur
 

























7.                  Daun mangga (Mangifera indica L.)
Keterangan:
1.      Ujung daun
2.      Pangkal daun
3.      Tepi daun
4.      Helaian daun
5.      Pertulangan daun
6.      Tangkai daun











Keterangan:
1.      Ujung daun
2.      Tepi daun
3.      Helaian daun
4.      Pertulangan daun
5.      Pangkal daun

Foto pengamatan
 












Keterangan:
1.      Ujung daun
2.      Pangkal daun
3.      Tepi daun
4.      Helaian daun
5.      Pertulangan daun
6.      Tangkai daun
Menurut literatur

V.    ANALISIS DATA
1.      Daun Bambu (Bambusa sp.)
Klasifikasi :
          Kingdom         :  Plantae
          Divisio             :  Magnoliophyta
          Classis             :  Liliopsida
          Sub classis       :  Connelinidae
          Ordo                :  Poales
          Familia             :  Poaceae
          Genus              :  Bambusa
          Species                        :  Bambusa sp.
          Sumber            :  Anonim, 2015
      Menurut hasil pengamatan pada praktikum kali ini dapat diketahui bahwa daun bambu adalah daun tunggal yang memiliki daun lengkap karena mempunyai bagian-bagian seperti pelepah/upih daun (vagina), tangkai daun (petiolus), dan helaian daun (lamina). Tumbuhan bambu (Bambusa sp) memiliki bangun daun lanset dan ujung daun yang meruncing. Tumbuhan bambu memiliki keadaan ujung daun yang meruncing karena seperti penjelasan meruncing menurut Gembong Tjitrosoepomo dalam bukunya Morfologi Tumbuhan (1985:32), meruncing (acutuminatus) itu seperti pada ujung yang runcing tetapi titik pertemuan kedua tepi daunnya jauh lebih tinggi dari dugaan, hingga ujung daun nampak sempit panjang dan runcing. Pangkal daunnya membulat, bertepi daun rata (integer), daging daun seperti kertas, permukaan bagian atas licin mengkilat dan pada bagian bawah yang licin suram, serta warna daun yang hijau.
2.      Daun Tebu (Saccharum officinarum L.)
          Klasifikasi :
Kingdom         :  Plantae
Divisi                           :  Spermatophyta
Sub divisi        :  Angiospermae
Classis             :  Monocotyledone
Ordo                :  Glumiflorae
Familia            :  Graminae
Genus              :  Saccharum
Species            :  Saccharum officinarum L.
Sumber            : Anonim, 2015

     Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum kali ini dapat diketahui bahwa daun tebu adalah daun tunggal yang memiliki daun tidak lengkap karena hanya memiliki upih daun atau pelepah daun (vagina) dan helaian daun (lamina). Gembong Tjitrosoepomo berjudul Morfologi Tumbuhan (1985:11) jika daun yang terdiri atas upih dan helaian saja maka daun yang demikian ini disebut daun berupih atau daun berpelepah. Daun tebu (Saccharum officinarum L.) mempunyai bangun pita (ligulatus) karena penampang melintangnya pipih dan daunnya yang lebih panjang dari bangun garis, ujung daunnya meruncing, pangkal daunnyarompang/rata (truncatus), daun bertepi rata, daging daun yang perkamen, permukaan atas dan bawah licin suram, serta daunnya berwarna hijau.
3.      Daun Pisang (Musa paradisiaca L.)
          Klasifikasi :                                            
Kingdom         :  Plantae
Subkingdom    :  Tracheobionta
Super divisi     :  Spermatophyta
Divisi                           :  Magnoliophyta
Kelas               :  Liliopsida
Sub classis       :  Commelinidae
Ordo                :  Zingiberales
Familia            :  Musaceae
Genus              :  Musa
Species            :  Musa paradisiaca L.
Sumber            :  Anonim, 2015
Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum kali ini dapat diketahui bahwa daun pisang adalah daun tunggal yang memiliki daun lengkap karena mempunyai bagian-bagian seperti pelepah/upih daun (vagina), tangkai daun (petiolus), dan helaian daun (lamina). Daun pisang (Musa paradisiaca L.) mempunyai bangun daun memanjang, ujung daunnya yang membulat, pangkal daun yang juga membulat, daun bertepi daun rata, daging daun yang seperti kertas (papyraceus atau chartaceus), permukaan atas licin mengkilat dan permukaan bawah daun berselaput lilin, serta warna daunnya hijau.
Menurut Gembong Tjitrosoepomo dalam bukunya Morfologi tumbuhan (1985:47), tebal atau tipisnya helaian daun, pada hakikatnya juga bergantung pada tebal tipisnya daging daun, bertalian dengan sifat ini dibedakan daun yang salah satunya seperti kertas (papyraceus atau chartaceus), tipis tetapi cukup tegar, misalnya daun pisang (Musa paradisiacal L.).
4.      Daun Jarak (Ricinus communis L.)
Klasifikasi :
Kingdom         :  Plantae
Subkingdom    :  Tracheobionta
Super divisi     :  Spermatophyta
Divisi               :  Magnoliophyta
Kelas               :  Magnoliopsida
Sub kelas         :  Rosiidae
Ordo                :  Euphorbiales
Familia             :  Euphorbiaceae
Genus              :  Ricinus
Species                        :  Ricinus communis L.
Sumber            : Anonim, 2015
Berdasarkan hasil pengamatan, daun jarak (Ricinus communis L.) adalah daun tunggal yang tergolong daun tidak lengkap, karena pada bagian daunnya hanya memiliki tangkai daun (petiolus) dan helaian daun (lamila), tidak terdapat pelepah/upih daun (vagina). Menurut Gembong Tjitrosoepomo dalam bukunya yang berjudul Morfologi Tumbuhan (1985:) jika daun yang terdiri atas tangkai daun dan helaian daun saja maka daun yang demikian ini disebut daun bertangkai. Daun ini mempunyai bangun bulat (orbcularis), ujung daun yang runcing, pangkal daun yang membulat, tepi daun yang bercangap menjari, daging daun yang tipis lunak (herbaceus), permukaan atas yang licin mengkilat dan permukaan bawah daun berbinggul-binggul, serta daunnya berwarna hijau kemerah-merahan
5.      Daun Widelia (Wedelia sp.)
Klasifikasi :
Kingdom         :  Plantae
Divisio             :  Magnoliophyta
Kelas               :  Magnoliopsida
Sub kelas         :  Asteridae
Ordo                :  Asterirales
Familia             :  Asteraceae
Genus              :  Widelia
Species                        :  Widelia sp.
Sumber            :  Anonim, 2015
Berdasarkan hasil pengamatan, daun widelia adalah daun tunggal yang memiliki daun tidak lengkap. Daun ini dikatakan tidak lengkap karena dia hanya memiliki memiliki tangkai daun (petiolus) dan helaian daun (lamila), tidak memiliki upih daun atau pelepah daun (vagina). Menurut Gembong Tjitrosoepomo dalam bukunya yang berjudul Morfologi Tumbuhan (1985:11) jika daun yang terdiri atas tangkai daun dan helaian daun saja maka daun yang demikian ini disebut daun bertangkai. Pada bangun daun widelia memiliki bangun jorong, ujung daunnya runcing, pangkal daunnya meruncing, bertepi daun rata dan daging daun tipis (berselaput), sedangkan permukaan atas daun kasar dan bagian bawah daun licin (suram) dan warna daunnya adalah hijau.
6.      Daun Keladi (Colocasia sp.)
Klasifikasi      :
Kingdom        :  Plantae
Divisio            :  Magnoliophyta
Classis            :  Magnoliopsida
Ordo               :  Arecales (Spadiciflorae)
Familia          :  Araceae        
Genus             :  Colocasia
Species           :  Colocasia sp.
                        Sumber            :  Anonim, 2015
Berdasarkan hasil pengamatan, daun keladi adalah daun tunggal yang memiliki daun lengkap karena mempunyai bagian-bagian seperti pelepah/upih daun (vagina), tangkai daun (petiolus), dan helaian daun (lamina). Pada bangun daun keladi memiliki bangun perisai, ujung daun runcing, pangkal daunnya , tepi daunnya rata dan daging daun seperti kertas, sedangkan permukaan atas daun licin mengkilat dan bagian bawah daun licin berselaput lilin dan warna daunnya adalah hijau.
7.      Daun Mangga (Mangifera indica L.)
Klasifikasi       :
Kingdom         :  Plantae
Divisi               :  Spermatophyta
Sub divisi        :  Angiospermae
Kelas               :  Dicotyledoneae
Ordo                :  Sapindales
Familia             :  Anacardiaceae
Genus              :  Mangifera
Species                        :  Mangifera indica L.
Sumber            :  Anonim, 2015
.
Berdasarkan hasil pengamatan, daun mangga adalah daun tunggal yang memiliki daun tidak lengkap. Daun ini dikatakan tidak lengkap karena dia hanya memiliki memiliki tangkai daun (petiolus) dan helaian daun (lamila), tidak memiliki upih daun atau pelepah daun (vagina). Pada daun mangga, bangun daunnya memanjang, ujung daun meruncing, pangkal daun meruncing, bertepi rata, daging daun yang perkamen, permukaan atas daun licin mengkilat dan permukaan bawah daun licin suram serta warna daunnya hijau.

VI.    KESIMPULAN

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1.      Daun bambu merupakan daun tunggal yang lengkap karena memiliki pelepah, tangkai, dan helaian daun. Ciri-ciri daun bambu yakni memiliki bangun daun lanset, ujung daunnya runcing, pangkal daunnya membulat, bertepi daun rata (integer), daging daun seperti kertas, permukaan bagian atas licin mengkilat dan pada bagian bawah yang licin suram, serta warna daun yang hijau.
2.      Daun tebu merupakan daun tunggal yang tidak lengkap karena hanya memiliki pelepah dan helaian, tidak memiliki tangkai. Ciri-ciri daun tebu yakni mempunyai bangun pita (ligulatus) karena penampang melintangnya pipih dan daunnya yang lebih panjang dari bangun garis, ujung daunnya meruncing, pangkal daunnya rompang/rata (truncatus), daun bertepi rata, daging daun yang perkamen, permukaan atas dan bawah licin suram, serta daunnya berwarna hijau.
3.      Daun pisang merupakan daun tunggal yang lengkap karena memiliki pelepah, tangkai, dan helaian daun. Ciri-ciri daun pisang yakni mempunyai bangun daun memanjang, ujung daunnya yang membulat, pangkal daun yang juga membulat, daun bertepi daun rata, daging daun yang seperti kertas (papyraceus atau chartaceus), permukaan atas licin mengkilat dan permukaan bawah daun berselaput lilin, serta warna daunnya hijau.
4.      Daun jarak merah merupakan daun tunggal yang tidak lengkap karena hanya memiliki tangkai dan helaian daun. Ciri-ciri daun jarak merah yakni mempunyai bangun bulat (orbcularis), ujung daun yang runcing, pangkal daun yang membulat, tepi daun yang bercangap menjari, daging daun yang tipis lunak (herbaceus), permukaan atas yang licin mengkilat dan permukaan bawah daun berbinggul-binggul, serta daunnya berwarna hijau kemerah-merahan.
5.      Daun widelia merupakan daun tunggal yang tidak lengkap karena hanya memiliki tangkai dan helaian daun. Ciri-ciri daun widelia yakni mempunyai bangun jorong, ujung daunnya runcing, pangkal daunnya meruncing, bertepi daun rata dan daging daun tipis (berselaput), sedangkan permukaan atas daun kasar dan bagian bawah daun licin (suram) dan warna daunnya adalah hijau.
6.      Daun keladi merupakan daun tunggal yang lengkap karena memiliki pelepah, tangkai, dan helaian daun. bangun perisai, ujung daun terbelah, pangkal daunnya membulat, tepi daunnya rata dan daging daun seperti kertas, sedangkan permukaan atas daun licin mengkilat dan bagian bawah daun licin berselaput lilin dan warna daunnya adalah hijau.
7.      Daun mangga merupakan daun tunggal yang tidak lengkap karena hanya memiliki memiliki tangkai dan helaian daun, tidak memiliki upih daun atau pelepah daun. Ciri-ciri daun mangga yakni mempunyai bangun daunnya memanjang, ujung daun meruncing, pangkal daun meruncing, bertepi rata, daging daun yang perkamen, permukaan atas daun licin mengkilat dan permukaan bawah daun licin suram serta warna daunnya hijau.



























VII. DAFTAR PUSTAKA
a.    Daftar Pustaka Buku
Amintarti,Sri. 2015. Penuntun Praktikum Morfologi Tumbuhan. Banjarmasin: PMIPA FKIP UNLAM.
Anonim a. 2015. http://digilib.unila.ac.id/2022/7/BAB%20II.pdf diakses pada 27 Februari 2015
Anonim b. 2015. http://digilib.unila.ac.id/4149/14/14%20-%20BAB%20II.pdf diakses pada 27 Februari 2015
Anonim e. 2015. http://www.biologionline.info/klasifikasi-pisang.html diakses pada tanggal 27 Februari 2015
Anonim f. 2015. http://www.biologionline.info/deskripsi-jarak-ricinus-communis.html diakses pada tanggal 27 Februari 2015




Anonim. A.Anonim. 2013. Daun Tungga dan Majemuk. http://anakdesmaupintar.blogspot.com (online). Diakses pada 25 Februari 2013.

Tjitrosoepomo, Gembong. 1985. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gajah     Mada University Press.                                                                                                                               
b.      Daftar Pustaka Gambar